Akarkata.com Kalbar – Keselamatan anak di kawasan sekolah menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan pengaturan lalu lintas, fasilitas pendukung, dan kedisiplinan pengguna jalan.
Kepadatan kendaraan pada jam masuk dan pulang sekolah dapat menimbulkan risiko, terutama ketika kendaraan berhenti sembarangan, akses penyeberangan tidak memadai, dan anak harus berjalan di antara arus kendaraan.
Kompol Refandri Meidika Putra, S.I.K., M.H., Peserta Didik Sespimmen Angkatan 67 TA 2026, Sespim Lemdiklat Polri, menyoroti pentingnya membangun sistem lalu lintas yang memberikan perlindungan nyata kepada anak, bukan sekadar mengandalkan kemampuan mereka menghadapi situasi jalan yang padat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penataan Lalu Lintas Sekolah Harus Mengutamakan Anak
Pada jam sibuk, orang tua biasanya ingin segera mengantar anak, sementara pengendara lain berusaha melanjutkan perjalanan.
Apabila tidak diatur dengan baik, aktivitas tersebut dapat menyebabkan penumpukan kendaraan, menghalangi pandangan, dan menyulitkan anak menyeberang.
Karena itu, sekolah perlu menyediakan aturan antar-jemput yang jelas dan mudah dipahami.
Lokasi untuk menurunkan siswa harus mempertimbangkan kondisi jalan, keselamatan pejalan kaki, serta pergerakan kendaraan di sekitarnya.
Orang tua juga perlu menghindari kebiasaan berhenti di tengah jalan atau menurunkan anak langsung ke arus kendaraan.
Ketertiban sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko dan memberikan ruang yang lebih aman bagi pengguna jalan lainnya.
Pengendalian Kecepatan dan Fasilitas Keselamatan
Pendekatan Safe System menekankan bahwa keselamatan jalan harus dibangun melalui berbagai unsur yang saling mendukung.
Pedoman Speed Management dari Global Road Safety Partnership dan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies tahun 2023 membahas pentingnya pengelolaan kecepatan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan dampak benturan.
Di kawasan sekolah, penerapannya dapat dilakukan melalui evaluasi kecepatan kendaraan, kondisi penyeberangan, keberadaan rambu, penerangan, serta jarak pandang pengendara terhadap anak.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan saat kegiatan sekolah berlangsung.
Dengan demikian, masalah yang benar-benar terjadi dapat dikenali dan menjadi dasar penentuan langkah perbaikan oleh pihak berwenang.
Peran Orang Tua dan Pengendara
Orang tua mempunyai tanggung jawab memberikan contoh perilaku berlalu lintas yang baik.
Mematuhi aturan, menggunakan perlengkapan keselamatan, dan mengikuti arahan petugas merupakan bagian dari upaya melindungi anak.
Pengendara yang melintas di sekitar sekolah juga perlu mengurangi kecepatan sesuai kondisi, memperhatikan keberadaan pejalan kaki, serta mematuhi rambu dan pengaturan lalu lintas.
Pendidikan keselamatan akan lebih efektif apabila anak melihat langsung perilaku yang sesuai dari orang dewasa.
Pesan tentang disiplin berlalu lintas menjadi lebih bermakna ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi untuk Mewujudkan Kawasan Sekolah yang Aman
Penataan kawasan sekolah perlu dievaluasi secara berkala.
Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kelancaran kendaraan di depan gerbang, tetapi juga harus memperhatikan akses pejalan kaki dan kemungkinan munculnya gangguan di jalan lingkungan sekitar.
Masukan dari siswa dapat membantu mengidentifikasi titik yang sulit dilalui atau terasa tidak aman.
Meski demikian, tanggung jawab untuk menentukan dan melaksanakan perbaikan tetap berada pada orang dewasa serta instansi sesuai kewenangannya.
Kawasan sekolah yang aman membutuhkan fasilitas yang memadai, pengaturan yang konsisten, dan kepatuhan semua pihak.
Melalui kerja sama tersebut, anak dapat menjalani perjalanan menuju tempat belajar dengan perlindungan yang lebih baik.
Penulis: Kompol Refandri Meidika Putra, S.I.K., M.H.
Peserta Didik Sespimmen Angkatan 67 TA 2026, Sespim Lemdiklat Polri







