Akarkata.com, Sintang, Kalimantan Barat – Bayangkan sebuah panggung besar bertuliskan “Marketing 5.0”, lampu sorot menyorot papan tulis penuh kata-kata canggih: AI, big data, IoT, blockchain, AR/VR.
Penonton mengangguk-angguk, sebagian karena paham, sebagian karena pura-pura.
Di sudut ruangan, ada seorang pengusaha kecil yang bingung, ia berbisik pelan:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau semua serba teknologi, terus nasib logo warung kopi saya gimana?”
Inilah ironi, Marketing 5.0 bicara tentang “Technology for Humanity”, tapi di lapangan, banyak pengusaha justru jatuh cinta pada satu hal paling sederhana: logo.
Bagi mereka, logo bukan sekadar gambar, logo adalah jimat, paspor, bahkan semacam visa menuju kesuksesan.
1. Logo sebagai Big Data ala UKM
Kotler bilang, Marketing 5.0 itu data-driven, tapi bagi pedagang bakso, data yang paling penting cuma satu: logo mangkok dan sumpit yang nyantol di benak pelanggan.
Logo itu semacam “big data manual” yang bisa membuat orang lapar hanya dengan sekali lihat.
2. Predictive Marketing? Cukup Lihat Logo
AI bisa memprediksi tren, tapi tukang laundry tahu, pelanggan akan balik lagi hanya dengan melihat logo sabun segar di banner depan toko.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











