Akarkata.com, Pontianak – Ritual pembakaran replika naga yang menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan Cap Go Meh 2026 di Kalimantan Barat berlangsung dengan aman dan tertib.
Sebanyak 40 replika naga dibakar dalam prosesi sakral yang digelar di Taman Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, pada Rabu (04/03/2026).
Prosesi tersebut menjadi penutup dari seluruh rangkaian perayaan Cap Go Meh tahun 2026 di wilayah Pontianak dan sekitarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar, personel Satuan Tugas Operasi Liong Kapuas Polda Kalimantan Barat diterjunkan secara maksimal guna melakukan pengamanan di berbagai titik lokasi kegiatan.
Pengamanan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen aparat kepolisian dalam menjaga keamanan sekaligus mendukung kelestarian tradisi budaya masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.
Ritual Pembakaran Naga Sebagai Penutup Perayaan Cap Go Meh

Ritual pembakaran naga merupakan tradisi penting yang menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Cap Go Meh.
Replika naga yang sebelumnya digunakan dalam berbagai atraksi budaya dan parade kemudian dibakar sebagai simbol pelepasan energi spiritual serta harapan akan keberuntungan di tahun yang baru.
Pada tahun 2026 ini, sebanyak 40 replika naga yang sebelumnya ikut memeriahkan berbagai kegiatan Cap Go Meh dikumpulkan di lokasi pemakaman Yayasan Bhakti Suci untuk menjalani ritual pembakaran.
Prosesi tersebut dimulai sekitar pukul 12.00 WIB dan dihadiri oleh ribuan warga yang ingin menyaksikan secara langsung tradisi budaya yang memiliki nilai sakral tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat karena ritual pembakaran naga tidak hanya sarat dengan nilai spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengamanan Maksimal dari Satgas Ops Liong Kapuas

Guna menjamin keamanan selama prosesi berlangsung, Satgas Operasi Liong Kapuas Polda Kalbar menurunkan personel secara maksimal di berbagai titik strategis.
Pengamanan dilakukan mulai dari pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi acara, penjagaan di pintu masuk area pemakaman, hingga pengawasan langsung di titik utama tempat pembakaran naga dilaksanakan.
Petugas juga melakukan pengaturan mobilitas masyarakat agar tidak terjadi kepadatan yang berpotensi mengganggu jalannya kegiatan.
Langkah pengamanan ini menjadi bagian dari operasi kepolisian yang secara khusus dilaksanakan untuk mengamankan rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh di wilayah Kalimantan Barat.
Dengan kehadiran aparat keamanan di lapangan, masyarakat dapat mengikuti prosesi ritual dengan rasa aman dan nyaman.
Ribuan Warga Antusias Saksikan Prosesi Sakral

Ritual pembakaran 40 replika naga tersebut berhasil menarik perhatian ribuan warga yang datang dari berbagai wilayah di Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.
Sejak siang hari, masyarakat mulai berdatangan untuk menyaksikan langsung prosesi yang memiliki nilai budaya dan spiritual tersebut.
Meski jumlah pengunjung cukup banyak, situasi tetap berlangsung tertib dan kondusif.
Hal ini tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara aparat keamanan, panitia penyelenggara, serta masyarakat yang hadir.
Kehadiran petugas keamanan di lokasi kegiatan juga membantu mengatur jalannya acara sehingga tidak terjadi gangguan keamanan maupun ketertiban masyarakat.
Komitmen Polri Menjaga Keamanan dan Kelestarian Budaya

Kasatgas Humas Operasi Liong Kapuas, AKBP Prinanto, menyampaikan bahwa pengamanan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen Polri dalam menjamin kebebasan masyarakat menjalankan tradisi budaya dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pengamanan yang dilakukan oleh personel kepolisian bertujuan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan Cap Go Meh dapat berlangsung dengan aman dan tertib.
“Kami menerjunkan personel di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi kepadatan arus serta potensi gangguan keamanan. Fokus utama kami adalah memastikan masyarakat dapat menjalankan tradisi ini dengan aman dan nyaman,” ujar AKBP Prinanto.
Ia juga mengapresiasi masyarakat yang telah berperan aktif dalam menjaga ketertiban selama berlangsungnya kegiatan ritual pembakaran naga tersebut.
Menurutnya, keberhasilan pengamanan kegiatan tidak hanya bergantung pada aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan dukungan dan kesadaran masyarakat.
Sinergi Aparat dan Masyarakat Ciptakan Situasi Kondusif

Keberhasilan pelaksanaan ritual pembakaran naga Cap Go Meh 2026 ini menunjukkan kuatnya sinergi antara aparat keamanan, panitia penyelenggara, serta masyarakat.
Kerja sama yang baik antara berbagai pihak membuat kegiatan yang dihadiri ribuan orang tersebut dapat berlangsung dengan lancar tanpa gangguan keamanan.
Selain itu, pengamanan yang dilakukan secara maksimal juga menjadi bukti keseriusan aparat kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan di tengah pelaksanaan kegiatan budaya yang melibatkan banyak masyarakat.
Tradisi Budaya yang Terus Dilestarikan

Ritual pembakaran naga bukan hanya sekadar prosesi penutup perayaan Cap Go Meh, tetapi juga merupakan simbol pelestarian tradisi budaya masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dapat terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat keamanan, diharapkan tradisi ini dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan.
Keberhasilan pelaksanaan ritual pembakaran 40 naga di Kubu Raya tahun 2026 juga menjadi bukti bahwa keberagaman budaya di Kalimantan Barat dapat dirayakan secara harmonis dalam suasana yang aman dan penuh kebersamaan.
Pengamanan maksimal dari Satgas Ops Liong Kapuas Polda Kalbar memastikan seluruh rangkaian prosesi berlangsung khidmat hingga selesai, sekaligus menutup rangkaian perayaan Cap Go Meh 2026 dengan aman dan kondusif.











