Jika Joao Angelo adalah tokoh yang memilih turun panggung karena merasa gagal, Fahri Hamzah adalah pemain yang berdiri di tengah panggung, memegang mikrofon.
Lalu berteriak ke penonton: “Lihat! Ini panggung kosong!” Bedanya, Joao turun dengan sunyi, Fahri mengubah sunyi menjadi gong raksasa yang menggetarkan dinding-dinding kementerian.
Ironisnya, di tengah pengakuan dramatis ini, publik mungkin terbelah, ada yang memuji kejujurannya, ada yang mencibir “Lha, kalau nol, kenapa nggak mundur sekalian?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi mungkin justru di sinilah strateginya, politisi Gelora ini ingin nol itu berubah menjadi angka satu, dua, atau bahkan seratus, setidaknya sebelum tahun anggaran tutup.
Seperti kisah wayang modern, kita menunggu babak selanjutnya, apakah pengakuan ini akan jadi awal reformasi, atau justru bab pertama dari serial panjang Kementerian Nol Season 2?
Karena di negeri ini, nol sering kali bukan akhir, tapi awal dari angka-angka baru, yang entah nyata atau hanya di atas kertas.
Sumber/Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
Update informasi Akarkata.com melalui Kanal Media Sosial Klik:







