Bayangkan, kementerian yang seharusnya jadi tukang siaga untuk rakyat justru berubah jadi event organizer CSR.
Mereka memikirkan sponsor, backdrop, dan souvenir, sementara genteng rumah rakyat terbang bebas ditiup angin malam.
Secara filosofis, “nol” ini menarik, Nol adalah angka sempurna dalam ketiadaan, Nol adalah lingkaran utuh tanpa awal dan akhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tangan Fahri Hamzah, nol menjadi pedang sakti untuk menebas ilusi kinerja.
Jika biasanya pejabat menyembunyikan kegagalan di balik jargon progress sedang berjalan, Fahri memilih jalan ninja, mengaku telanjang di tengah rapat, metaforis tentunya.
Namun, nol ini bukanlah nol matematika murni, ia adalah nol politis, angka yang berdenyut dengan frustrasi, sindiran, dan mungkin sedikit keinginan untuk meledakkan meja birokrasi.
Sebab kalau benar kementerian lebih sibuk CSR dari tugas pokok, berarti mereka telah menjadikan rumah rakyat sebagai properti latar belakang untuk sesi foto Instagram.
Lihatlah, program renovasi rumah rakyat tidak bergerak, penataan kawasan berjalan lambat, PSU seperti menunggu zaman batu kedua.
Sementara itu, dalam acara CSR, senyum pejabat merekah, kamera berkilat, dan piagam penghargaan dibagikan.
Bukankah ini indah? Indah seperti mimpi yang tak pernah bangun.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











