Akarkata.com, Sintang, Kalimantan Barat – Bisa ndak Bupati dilengserkan rakyat? banyak bertanya demikian, seolah-olah belum pernah ada kejadian.
Kalau Presiden, justru pernah ada, begitu juga bupati pernah dilengserkan rakyat lewat demo berjilid-jilid.
Salah satunya, Aceng Fikri, Bupati Garut, Jawa Barat dibuat KO oleh rakyatnya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mari kita kenalan dengan beliau sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Kekuasaan itu seperti minum kopi tubruk di gelas kristal, terlihat mewah, terasa nikmat, tapi kalau salah teguk, ampasnya nyangkut di tenggorokan dan bikin batuk memalukan.
Banyak orang bermimpi duduk di kursi bupati, seolah itu singgasana emas yang diwariskan Tuhan langsung ke mereka.
Padahal, kursi itu hanyalah titipan rakyat, sebuah kontrak sosial yang masa berlakunya ditentukan oleh suara terbanyak, bisa dicabut kapan saja kalau pemegangnya terlalu kreatif melanggar sumpah jabatan.
H. Aceng Hulik Munawar Fikri, S.Ag., lahir di Garut pada 6 September 1972, adalah salah satu tokoh yang pernah merasakan manisnya kursi itu sekaligus pahitnya jatuh dari ketinggian.
Di usia 52 tahun (per 2024), ia membawa jejak hidup yang penuh cerita, tiga kali menikah, pertama dengan Nurrohimah, lalu dengan Fani Oktora yang cuma bertahan empat hari, dan terakhir dengan Siti Elina Rahayu, serta tiga anak yang lahir dari perjalanan ini.
Pendidikan formalnya panjang: SD Sukamentri Garut, MTs Negeri Garut, PGN Garut, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Musaddadiyah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah, hingga Universitas Indonesia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











