Akarkata.com, Jakarta – Langit Jakarta Pusat malam itu berwarna kelabu, hawa panas bercampur dengan rasa murka yang meledak dari ratusan orang yang berbondong-bondong menuju Mako Brimob, Kwitang.
Mereka datang dengan wajah penuh amarah, suara lantang, dan semangat yang dikobarkan oleh satu nama: Affan Kurniawan.
Affan bukan pejabat, bukan orang besar. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang mencari rezeki di jalanan ibu kota.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, hidupnya terhenti tragis saat tubuhnya tergilas kendaraan taktis Brimob dalam aksi di Pejompongan.
Bagi massa, kematiannya bukan sekadar kecelakaan, itu adalah bentuk ketidakadilan yang tak bisa dibiarkan.
“Keadilan untuk Affan!” teriak seseorang, disambut riuh pekikan massa.
Di depan gerbang tinggi Mako Brimob, kemarahan itu berubah menjadi api, pecahan kaca beterbangan, batu meluncur deras, petasan meledak memekakkan telinga, dan botol molotov dilemparkan hingga lidah api sesekali menjilat udara malam.
Bau bensin dan asap membuat dada sesak, namun massa tidak gentar, mereka ingin jawaban, mereka ingin pertanggungjawaban.
Dari dalam, polisi tak tinggal diam. Dentuman peluncur gas air mata menggema, asap putih tebal mengaburkan pandangan.
Satu per satu massa berlarian, sebagian tetap bertahan meski air mata mengalir deras bukan hanya karena gas, tapi juga karena amarah yang mendidih.
Di sudut-sudut gelap, pasukan TNI berjaga, mereka tidak bergerak maju, hanya berdiri di sekitar permukiman warga.
Halaman : 1 2 Selanjutnya











