Karier politiknya pernah dipuja, terpilih sebagai Bupati Garut 2009–2013 lewat jalur independen.
Ia menang telak 57% suara, bagi warga Garut, itu seperti menonton kisah underdog yang berhasil mengalahkan partai besar.
Setelah itu, ia melanjutkan kiprahnya sebagai anggota DPD RI 2014–2019 mewakili Jawa Barat, mengantongi 1,1 juta suara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernah singgah di PKB (2002–2006) lalu Golkar (2011–2012), sebelum akhirnya dipecat akibat badai yang akan kita bicarakan ini.
Tahun 2012, badai itu datang, garut gempar oleh berita yang membuat politik terasa seperti gosip infotainment.
Bupatinya menikah siri dengan gadis 18 tahun bernama Fani Oktora, pernikahan itu tidak seperti umumnya pernikahan, melainkan seperti kontrak kerja paruh waktu, hanya empat hari.
Setelah itu, Fani menerima SMS berisi perceraian dengan alasan yang akan abadi di buku sejarah kejanggalan hukum, tidak perawan dan bau mulut.
Media nasional pun mengunyah berita ini sampai habis, menayangkannya di setiap jam berita, seakan Garut adalah set panggung sandiwara.
Tapi sumpah jabatan bukanlah naskah sandiwara, ia sakral, dan melanggarnya adalah dosa politik yang tidak bisa dibilas dengan air zam-zam.
Warga Garut pun marah, mereka demo besar-besaran, berjilid-jilid, DPRD Garut pun kali ini menyalakan mode darurat, sidang paripurna digelar.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











