Karena tepat setelah kata “terima kasih”, semesta seperti memutuskan untuk menguji fisik dan mental seorang kepala daerah: sebotol air mineral terbang bagai meteor mini, mendarat entah di udara atau di dada, disusul sandal jepit yang melayang seperti burung merpati tanpa perdamaian.
Di belakangnya, Brimob membentuk benteng hidup, tameng baja berkilat-kilat memantulkan sinar matahari dan kemarahan rakyat.
Sudewo dievakuasi cepat masuk kembali ke dalam perut besi, panggung pidato dadakan pun berakhir seperti konser yang dibubarkan Satpol PP sebelum lagu pertama selesai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Entah apa yang lebih menyakitkan, lemparan botol air mineral yang dinginnya menusuk hati, atau sandal jepit yang harganya tak sampai dua puluh ribu tapi mampu menampar harga diri miliaran rupiah seorang bupati.
Momen itu, bagi sebagian orang, mungkin lucu, tapi di mata sejarah, ia tragis.
Bupati yang seharusnya menjadi simbol wibawa, hari itu tampak seperti seorang gladiator malang yang dilempar ke arena tanpa pedang, hanya untuk dikepung massa yang lapar akan keadilan.
Mungkin, setelah pintu rantis tertutup rapat, di dalam sana Sudewo menarik napas panjang, bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk memastikan bahwa ia masih ada.
Tubuhnya masih utuh meski harga dirinya berserakan di Jalan Tombronegoro, dibawa angin panas dan suara teriakan ribuan rakyat yang sudah tak percaya.
Itu bukan sekadar pidato dua puluh detik, itu adalah upacara pemakaman simbolik atas rasa hormat publik.
Sejarah akan mencatat, pada hari itu, di Pati, seorang bupati bukan hanya kehilangan wibawa, tapi juga menjadi legenda.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











