Akarkata.com, Sintang, Kalimantan Barat – Sampai tadi malam, situasi di sekitar Kantor Bupati Pati masih mencekam, massa masih ramai, namun, saya mau review sedikit kemunculan Sudewo pukul 12.30 di atas tank rantis Brimob.
Walau sebentar, ia cukup berani menampakkan wajahnya di tengah lemparan botol air mineral dan sandal jepit.
Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah terik matahari siang yang membakar kulit dan kepercayaan rakyat, Rabu, 13 Agustus 2025, terjadi sebuah drama yang bahkan Shakespeare pun mungkin tak sanggup meramalkannya.
Dari balik perut besi kendaraan rantis, mobil polisi lapis baja yang biasanya dipakai untuk perang melawan teroris, muncullah sosok yang katanya pemimpin, tapi hari itu lebih mirip sandera politik, Bupati Pati, Sudewo.
Ia berdiri dari lubang di atap kendaraan, kemeja putihnya memantulkan cahaya mentari, peci hitamnya seperti titik kesedihan di tengah samudra kebencian massa, dan kacamata hitamnya seolah menutupi mata yang tak tahu lagi di mana harus menaruh harga diri.
Di depannya, lautan manusia, bukan lautan cinta, tapi ombak kemarahan yang siap menggulungnya tanpa sisa.
“Bismillahirrahmanirrahim…” katanya, sebuah pembukaan yang biasanya penuh harapan, tapi hari itu terdengar seperti doa terakhir seorang prajurit sebelum masuk ke medan ranjau.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, ke depannya saya akan berbuat yang lebih baik, Terima kasih.”
Dua puluh detik. Hanya itu, tak sempat bicara visi, misi, atau prestasi, tak sempat menyebut program unggulan atau capaian APBD, tak ada jargon, tak ada retorika.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











