Publik melongo ketika angka-angka mulai diluncurkan seperti rudal retorika, cadangan beras nasional 4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, lahan sawit 3,1 juta hektare berhasil direbut kembali, 1.063 tambang ilegal ditutup, dengan kerugian negara yang disebut mencapai Rp300 triliun.
Para ekonom tersenyum. Para mafia sumber daya alam menggertakkan gigi. Para mahasiswa mencatat angka itu untuk bahan demo berikutnya.
Lalu, Prabowo menyinggung misteri yang membuat rakyat geleng-geleng kepala, kelangkaan minyak goreng di negeri produsen sawit terbesar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebutnya “aneh”, sebuah fenomena ekonomi yang absurd, lalu menyematkan istilah serakahnomics.
Istilah ini seperti mantra kutukan untuk mereka yang mampu membuat minyak goreng menguap dari rak toko tanpa bantuan jin atau sulap David Copperfield.
Dalam sudut pandang filsafat, ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi bukti bahwa nafsu manusia bisa mengalahkan logika sains produksi.
Momen dramatis hadir saat mantan Presiden Jokowi memberikan dua jempol kepada Prabowo.
Dua jempol ini bukan sekadar simbol pujian, tapi juga seperti stempel kerajaan dari penguasa lama kepada penguasa baru.
Sejarah akan mencatat bahwa pada siang itu, di ruang parlemen yang dingin oleh AC dan panas oleh ego politik, dua generasi kekuasaan saling menatap dan tersenyum.
Puan Maharani pun tak ketinggalan memberi pujian, ia menyebut respons cepat Prabowo terhadap berbagai masalah rakyat.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











