Pencabutan izin tambang di Raja Ampat, penyelesaian tapal batas, harga gabah yang lebih manusiawi.
Semuanya dibungkus dalam bahasa manis parlemen, namun, di balik tepuk tangan itu, rakyat tahu bahwa pekerjaan rumah negara ini bukanlah setumpuk, melainkan sebuah gedung pencakar langit yang pondasinya masih miring.
Bagi yang mau membaca pidato ini sebagai novel, ada dramanya, ada humornya, ada data ekonominya, dan ada pula filosofi peradaban.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahwa baju adat boleh hilang, tapi identitas negara tidak boleh luntur, bahwa angka-angka bukan sekadar statistik, tapi peluru perang melawan kebodohan birokrasi.
Bahwa serakahnomics adalah agama baru para penimbun, dan melawannya butuh iman yang lebih kuat dari sekadar doa di rapat kabinet.
Yang terpenting, di panggung politik, simbol sekecil jempol bisa menjadi meteor yang mengubah orbit sejarah.
Prabowo hari itu bukan sekadar presiden yang berpidato, ia seperti pemeran utama dalam sandiwara epik tentang republik yang ingin keluar dari labirin masa lalu.
Sebuah labirin di mana rakyat sering dijadikan penonton, sementara tikus-tikus politik berpesta di ruang gelap.
Entah ini awal dari bab baru atau sekadar drama pengantar tidur politik nasional, yang jelas, publik mendapat satu pelajaran baru, kadang revolusi dimulai dari hal sepele, seperti memilih jas abu-abu di hari yang penuh warna.
Sumber: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
Update informasi Akarkata.com melalui Kanal Media Sosial Klik:











