Akarkata.com, Sintang, Kakimantan Barat – Untuk membaca narasi ini, sebaiknya siapkan kopi panas tanpa gula, jangan yang dingin.
Lalu, duduk yang rapi, bila perlu pakai jas dan dasi, soalnya, ini pidato presiden kita, Pak Prabowo. Here you are..
Di gedung DPR/MPR siang itu, sejarah politik Indonesia mendadak berubah aroma, bukan aroma wangi melati atau kopi tubruk tanpa gula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi, aroma formalin kekuasaan yang dicampur sedikit parfum “Gaya Baru Republik”.
Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk, tidak dengan baju adat yang penuh warna seperti presiden-presiden sebelumnya, ia memakai jas abu-abu rapi, dasi biru muda, kemeja putih, dan peci hitam.
Penampilan yang membuat para fotografer politik seakan sedang memotret seorang CEO yang baru saja menandatangani kontrak merger semesta.
Pidato ini dibuka dengan semangat “300 hari pertama” pemerintahan, angka yang seolah dipinjam dari film 300 tentang pasukan Sparta.
Tapi bedanya, Prabowo tidak melawan Persia, melainkan melawan sesuatu yang jauh lebih licin: korupsi, tambang ilegal, dan serakahnomics.
Di layar pikiran rakyat, muncul imajinasi Prabowo sebagai Leonidas yang bukan melempar tombak, tapi melempar dokumen penyitaan aset.
“Korupsi sudah menjalar ke seluruh lapisan pemerintahan,” katanya, dan di kursi para pejabat nakal, kursi itu mendadak terasa panas seperti panggangan sate klathak.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











